Langsung ke konten utama

Capek





Capek. Stress. Kepala gue pengen diare.

Itu beberapa kata yang mewakili perasaan gue belakangan ini di kelas tiga. hampir setiap hari gue dikasih tugas oleh semua guru. tugas yang satu belum kelar, muncul tugas lagi. jadi, tugas nggak bakal habis habis. beda dengan kelas dua dulu, gue bisa nyantai nggak terlalu banyak tugas.


Dulu setiap hari minggu gue bisa tidur dikamar seharian, bisa istirahat leluasa semau gue karena jarang banget tugas. sekarang, di hari minggu harus diselingi ngerjain tugas-tugas dari sekolah yang menumpuk. nggak bisa istirahat leluasa seperti biasanya. 

Karena terlalu sibuk, pikiran gue terkadang nggak bisa bedain mana rumah mana sekolah.



Ketika gue lagi nyantai dirumah, badan lagi nyantai dirumah tapi pikirannya masih kebayang tugas-tugas dari sekolah.



Ketika gue lagi belajar disekolah, badan tetep disekolah tapi pikirannya masih dirumah, kebayang lagi tidur dikasur.



Sekarang, nggak ada hari libur buat gue. walaupun dikalender ada hari libur, menurut gue itu cuman libur untuk tubuh aja, nggak libur untuk pikiran. karena ketika gue lagi istirahat dirumah pikirannya masih disekolah. seharusnya libur itu harus badan sama pikiran. nggak bisa salah satu aja. karena badan sama pikiran satu kesatuan yang nggak bisa dipisahkan



.........



Belakangan ini ditengah-tengah pelajaran gue gampang banget ngantuk. bukan cuman gue aja sih, temen-temen kelas gue yang lain juga gampang ngantuk. dari yang awalnya cuman ngantuk aja, ada juga yang sampe ketiduran ditengah pelajaran berlangsung, termasuk gue.



Pernah gue ketauan guru fisika (hampir) tidur ditengah tengah pelajaran. pelajarannya di jam terakhir sehabis pelajaran matematika, sebelum pelajaran matematika ada pelajaran olahraga, waktunya siang siang,  Perfect.



Ketika gurunya baru masuk kelas gue masih biasa aja, belum ngantuk sama sekali. ditengah tengah pelajaran mata gue udah mulai sayup sayup ingin tidur, ngantuk banget. gue serasa orang bergadang semaleman, yang baru tidur jam 5 shubuh, kurang tidur. Tapi perasaan ngantuknya masih gue tahan, posisi gue untuk tidur nggak tepat banget, duduk di paling didepan deket pintu kelas.



Gue coba dengan berbagai cara untuk menghilangkan ngantuk. memelototkan mata dengan bantuan jempol dan telunjuk dari kedua tangan. menampar muka gue sendiri. semuanya nggak ada yang berhasil. gue coba dengan menampar teman gue disebelah, gue ditampar balik. sakit. gue tetep ngantuk.



Rasanya kantuknya udah berat banget, gue udah nggak bisa nahan lagi. gue tidur dengan ditutupin jaket. Nggak nyampe sepuluh detik gue tidur…..



“Nopal !” terdengar suara yang lumayan keras, yang membuat gue langsung bangun. ternyata guru fisika yang manggil nama gue dengan keras.


“iya bu ?” jawab gue seadanya.



“Kamu, maju ke depan”



Gue maju ke depan kelas dengan santai seperti nggak punya salah sama sekali. firasat gue bener, pasti gue disuruh ke depan karena dari tadi mungkin gue menganggu dia mengajar dengan tingkah laku gue mencoba menghilangkan rasa ngantuk dan tidur.



“Coba kamu jelasin, yang tadi ibu jelasin.”



“………..”



“Yaudah, kamu keluar sana. lanjutin tidur aja”



Gue langsung keluar kelas dan tidur. gue capek.

Komentar

  1. Hidup ente udah kayak hidup orang kantoran aja Brow. Ntar klo dah ngantor ya gitu. Satu kerjaan blum selese udah dateng kerjaan berikutnya. Gitu terus nggak berhenti-berhenti. Kadang kerjaan pun mpe dibawa ke rumah dan nggak mandang tanggalan.

    Tapi emang hidup itu gitu Brow. Yang kayak gitu juga nggak terlalu sering juga kok. Ya pasti adalah kesempatan buat istirahat. Toh kita juga nggak bisa mikir kalau kebanyakan beban kan? Hahaha.

    Cuma ya mungkin dirimu belum terbiasa sama ritme yang kayak gitu aja Brow. Makanya mpe ketiduran di kelas, hihihi.

    BalasHapus
  2. iya mungkin diri gue aja sih yang belum "kebiasa" dengan rutinitas rutinitas yang bikin capek ini. tapi jelas emang belakangan ini gue capek banget.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merasa asing

Gue merenungkan tulisan raditya dika dari bukunya mengenai koala yang berasal dari New South Wales, Australia. ceritanya begini, koala itu bermigrasi dari hutan tempat tinggalnya. beberapa bulan kemudian, ia kembali ke hutan tempat dia tinggal. namun, ternyata selama dia pergi, hutan yang pernah menjadi rumahnya ditebang, diratakan dengan tanah oleh para penebang liar. Si koala kebingungan kenapa tempat tinggalnya tidak seperti dulu. ia hanya bisa diam , tanpa bisa berbuat apa pun. ia duduk sendirian. memandangi sesuatu yang dulu sangat diakrabinya dan sekarang tidak dikenalinya. Sebenernya gue juga pernah merasakan hal yang dirasakan Si koala itu. 'sesuatu yang dulu sangat diakrabi dan sekarang seperti tidak dikenali'. tapi yang gue rasakan bukan kepada tempat seperti Si koala yang diceritakan diatas, tapi lebih kepada teman yang dulu pernah dekat, tapi sekarang udah tidak lagi. Salah satunya temen sd gue, Ibnu. Ibnu ini saudara dari saudara gue. jadi, gue punya ...

Boker diwaktu yang tidak tepat

Pada bulan bulan awal tahun 2011 pas gue smp dilewati dengan kegiatan kegiatan sekolah yang menyibukan. entah ada try out terus menerus yang hanya berselang seminggu, mengerjakan soal soal pelajaran yang akan di ujiankan tanpa henti, dan masuk sekolah jam 6 pagi atau yang biasa disebut jam 0 untuk belajar tambahan. ya itu semua dilakukan hanya untuk satu tujuan. lulus ujian nasional. "Ah ah ah ah   Ah ah ah ah Ah ah ah oh Ah ah ah ah I always knew you were the best the coolest girl I know"

Ujian Praktek dan Ask.fm

Dua minggu ini, gue sedang menjalani ujian praktek. Yang mana ujian praktek ini merupakan salah satu syarat kelulusan dari sekolah. Hampir semua pelajaran di ujikan dalam ujian praktek ini. Di situ saya kadang merasa sedih. Di lain sisi gue seneng karena nggak belajar. Sekarang gue udah menjalani satu minggu, jadi hanya tersisa satu minggu lagi. Pelajaran-pelajaran yang sulit untuk ujian praktek sudah terlewati semua. Pada awalnya sih deg-degan sebelum ujian karena gue berpikir kalo nggak bisa ngelakuin apa yang akan diujikan, nanti pasti dimarahin sama gurunya. Jadi gue sering menyendiri untuk menghapalkan yang di ujikan sebelum ujian praktek. Ternyata ketika ujian praktek berlangsung nggak separah yang gue pikirkan. Malah ada guru yang ketawa. Jadi gue bawa santai. Saking santainya, pernah gue  mencoba bercanda sama gurunya. tapi gurunya nggak mau bercanda sama gue. sakit. Karena gue tau ujian praktek nggak menegangkan. Latihan drama pun dibawa santai juga. Sa...