Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cinta

Gak Enak Sama yang Lain

Menerbitkan buku di penerbit indie, gak semudah menerbitkan di penerbit yang udah punya nama. Ya, gue harus melakukannya semuanya sendirian, sampai promosi pun gue harus melakukannya sendirian. Maka dari itu gue mulai gencar promosi dari sosial media, hingga dari mulut ke mulut. Oh iya, sekarang udah bisa dibeli secara online loh, klik aja di sini . Sekarang perlahan demi perlahan, udah mulai banyak yang tau kalau sekarang gue nulis buku. Terutama temen-temen jurusan di kampus. Jadi, setiap ada orang yang ketemu gue di kampus pasti ada yang nanya, “Oh ini Nopal yang nulis buku itu, ya ?” bukan lagi, “Oh ini Nopal yang suka boker gak cebok itu ya ?” Setelah melakukan Pre-Order pertama, antusias dari temen-temen yang mau beli lumayan banyak. Walaupun, ya, gak sebanyak yang gue kira, tapi gapapa. Setidaknya ada yang   mengapresiasi karya gue, dan gue sangat-sangat mengucapkan terima kasih. Bukan cuman temen dari kampus, temen-temen rumah sampai temen sekolah juga iku...

Tentang Patah Hati

Setiap orang pasti pernah patah hati. Tapi akibat yang diterima setiap orang setelah patah hati selalu berbeda. Tergantung bagaimana sudut pandang kita melihat patah hati tersebut. Ada yang setelah patah hati langsung mengurung diri di kamarnya berhari-hari. Sampai timbul lingkaran hitam di bawah matanya akibat bekas menangis yang tak kunjung selesai. Berkali-kali juga teriak di dekat jendela, “DIA ITU JAHAT!” sampai pita suaranya hampir putus. Ada juga yang terlihat jadi bugar keesokan harinya, walaupun dia menangis semalaman. Setelah patah hati, muncul secercah harapan untuk mencintai seseorang lagi. Patah hati menurut dia bukanlah sesuatu hal yang buruk. Melainkan untuk jadi pembelajaran, untuk menjadi yang lebih baik lagi. Bicara tentang patah hati, tiga hari yang lalu gue habis nonton film Love, Rosie . Bercerita tentang dua orang laki-laki dan perempuan yang menjalin persahabatan dari kecil. Ketika mau lulus SMA, persahabatan mereka mulai renggang, karena yang laki-...

Jatuh Cinta yang Salah ?

Jadi cewek enak ya, mereka bisa melakukan apa aja sama temennya yang berjenis kelamin sama (baca : cewek). Contohnya, mereka bisa pegangan tangan satu sama lain, ngomong “sayang-sayang-an” di depan umum, berbalas memuji paras cantik, sampai yang paling ekstrim : ciuman bibir dengan bibir, tanpa takut dibilang lesbi sama orang lain. Sedangkan jadi cowok nggak enak sama sekali. Kalau seorang cowok pegangan tangan sama cowok lain, memanggil “sayang-sayang-an” di depan umum, sampai berbalas memuji kegantengan sesama cowok, sudah bisa dipastikan dia akan dikucilkan dari masyarakat, diinjak-diinjak, diludahi, lalu akan dibakar massa ( ekstrim). Mengenaskan. Mungkin, persepsi orang sudah mengatakan bahwa cewek itu mempunyai karakter lemah lembut, halus, kalem, jadi wajar aja kalau melakukan itu. Berbeda  dengan cowok yang mempunyai karakter yang lebih macho, maskulin, gagah. Jadi gak cocok kalau sesama cowok melakukan pegangan tangan, dan sebagainya, itu akan terasa menggelikan....

Bosan

“Syif,” kata gue, “gue mau cerita, nih. Sekarang gue lagi suka sama satu cewek. Terus gue ketemu orang baru, dan gue suka sama orang baru itu. Menurut lo gimana ?” Saat itu gue lagi mengendarai motor untuk pulang ke rumah. Gue naik motor sama Syifa, temen kampus, yang duduk di belakang. Kita berdua habis menjadi panitia dalam sebuah acara kampus. Kebetulan gue sama dia mendapat tugas yang sama, koordinasi lapangan. Jadi, gue berangkat bareng ke tempat acara sama Syifa, dan gue pulang bareng sama dia. Kalo lagi naik motor berdua, cowok maupun cewek, entah kenapa gue lebih suka ngobrol daripada diem sepanjang perjalanan. Membahas apa aja yang terlintas di otak. Tapi,   waktu itu, kata-kata yang keluar dari ujung bibir gue adalah pengin ngomongin hal yang berbau cinta dan sebagainya. “Maksudnya ?” tanya Syifa, masih bingung. “Maksud gue, menurut lo, gue salah gak kalo suka orang lagi ?” “Gak salah juga, sih. Menurut gue, lo seharusnya usahain dulu orang yang pertam...

Kriteria Istri Idaman

Satu minggu yang lalu, dosen mata kuliah bahasa Inggris gue ngasih tugas untuk latihan melamar kerja dengan bahasa Inggris. Diantaranya adalah pengenalan diri, membuat peta dari rumah ke kampus, dan kriteria pasangan idaman. Gue bingung sama tugas yang terakhir, apa hubungannya kriteria pasangan idaman sama lamaran kerja ? Seandainya nanti beneran ada, gue gak kebayang alasan penolakan yang terjadi pada diri gue nanti. Mungkin seperti ini, “Maaf, lamaran kerja kamu saya tolak. Karena kriteria istri idaman kamu rendahan.” Itu dalem. Menurut gue, mencari pasangan itu nggak harus pakai kriteria. Karena semakin banyak kriteria, semakin susah juga untuk mendapatkan pasangan ideal yang kita inginkan. Tapi walaupun nggak pakai kriteria, setidaknya kita juga harus milih-milih. Nggak mungkinkan, kita milih pasangan yang pakai celana sepaha dan suka naik motor bertiga  di sore hari ? Sebenernya gue bingung banget untuk nulis tugas “Kriteria Istri Idaman” tersebut. Tapi karena tu...

Jatuh Cinta Dalam Diam

Sewaktu masih SMA, ada adik kelas yang bertanya sama gue lewat ask.fm, ‘Kakak suka sama siapa di sekolah ?’ Sebenernya pertanyaan itu pengin gue jawab, ‘Kepala sekolah.’ Tapi, berhubung karena kepala sekolah gue cowok, gue gak jawab itu. Gue jawab dengan simple , ‘Nanti akan gue kasih tau di blog setelah lulus SMA.’ Sebenernya tulisan ini udah gue buat dari semenjak pertanyaan itu dijawab. Tapi hanya baru beberapa tulisan, nggak gue lanjutin lagi. Karena ketika kelas tiga SMA gue sibuk belajar untuk persiapan Ujian Nasional. Mengejar materi yang masih belum gue pahami saat kelas satu dan dua. Setelah lulus dari SMA, gue juga sibuk untuk mendaftar perguruan tinggi, kebetulan gue juga gagal terus dalam ujian, jadi waktu yang terbuang juga lumayan banyak. Harapan bebas untuk belajar pun sirna, gue harus belajar lagi setelah lulus SMA untuk tes perguruan tinggi. Beruntung, sekarang gue udah keterima di perkuliahan, jadi banyak waktu luang untuk menulis. Ada yang nagih tuli...