Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerita cerita

Hujan di Senja Hari

Salah satu dosen di prodi gue  ngasih tugas ke mahasiswanya buat nambah nilai UAS. Karena anak muridnya pasti udah bosen dikasih tugas yang gitu-gitu aja, dia punya alternatif lain, dia ngasih tugas yang beda, beragam. Dia nyuruh mahasiswanya milih salah satu tugas dari dari tiga pilihan, diantaranya : buat puisi, cerpen atau berita buat presenter . Seandainya gue milih buat puisi, pasti hasilnya akan absurd . Contoh hasilnya seperti ini . Gue kasihan sama dosen, setelah baca puisi gue pasti dia langsung muntaber (muntah dan berak-berak). So, gue gak milih buat puisi. Kalo buat berita, gue udah bosen. Hampir setiap tugas selalu disuruh buat berita, otak gue jadi migren. Gue pengin yang beda, alhasil gue memilih buat cerpen. Walaupun hasilnya absurd dan bikin muntaber juga setelah baca, setidaknya gue udah berusaha. Cerpen tersebut sengaja gue taruh di blog, supaya banyak yang baca, dan banyak yang berak sembarangan, hehe. Selamat  membaca ! … Hujan di Senja...

Journalist Camp Part 1

Di kampus, gue ikut Unit Kegiatan Mahasiswa (ekskul) GEMA. GEMA adalah singkatan dari Gerakan Mahasiswa, yang isinya terkadang membuat majalah kampus, menyebarkan poster-poster tulisan di MADING, dan lain sebagainya. Di dalamnya terdapat divisi reporter , divisi editor , divisi marketing , dan divisi artistic . Gue memililih divisi editor, karena emang gue suka di bidang tulis-menulis. Hari jum’at sampai hari minggu kemarin, GEMA ngadain acara journalist camp untuk para anggota baru. Journalist camp adalah acara nginep selama tiga hari, yang fungsinya untuk menempa para MABA (Mahasiswa Baru) untuk menjadi anggota GEMA yang baik sesuai divisi masing-masing. Asik, katanya sih begitu. Sebelum berangkat ke puncak, gue ngumpul dulu sama temen-temen yang ikut. Kita berkumpul di dalam kantin, makan supaya di sana gak kelaperan. Di sela-sela melahap makanan masing-masing, gue nanya, “Eh, lo pada bawa shampoo sama sabun gak ?” “Nggak, gue cuman bawa gosok gigi aja. Nanti, kan, di...

Petak Umpet

Petak umpet. Permain tradisional yang lumayan nge- hits saat masih gue kecil. Cara bermainnya mudah, salah satu orang ada yang jaga menutup matanya di salah satu tempat, bisa tembok atau pohon. Terus, yang lain ngumpet mencari tempat persembunyian. Biasanya pada hitungan ke-30, yang jaga membuka matanya, lalu mencari orang yang ngumpet. Konon katanya, kalau mau main petak umpet jangan malem-malem. Nanti bisa diculik wewe gombel (salah satu spesies hantu yang ada di Indonesia). Semenjak gue mendengar itu, gue jadi jarang main petak umpet malam hari. Tapi, setelah beranjak remaja gue baru tau kalau ternyata wewe gombel itu hantu perempuan yang payudaranya besar. Gue jadi nyesel kenapa dulu gak pernah diculik dia. Gue dulu sering banget main petak umpet di komplek perumahan. Bimo, temen gue, dia selalu dicurangin sama temen-temen yang umurnya lebih tua saat main petak umpet. Dia selalu dibikin jaga terus. Pada awalnya dia biasa-biasa aja, tapi lama-kelamaan dia kesel juga, akhi...

Serangga Menakutkan

Gue bingung, pasti selalu ada hewan maupun serangga yang menjadi penghuni di rumah gue. Sekalinya satu wabah udah nggak ada, muncul wabah lain yang dateng. Seperti kayak ada ‘hewan musiman’ di rumah gue. Saking keseringannya di rumah gue, mungkin nanti ada yang nanya, “sekarang lagi musim hewan apaan di rumah lo ?” Pernah ada tikus berkeliaran di dalem rumah. Biasanya si tikus ini masuk ke dalem rumah melalui pintu gudang yang dilubangi dengan gigi seri-nya. Sehingga penghuni di dalem rumah jadi was-was kalo ada tikus. Untuk mengurangi populasi tikus di sekitar rumah, bokap beli barang-barang anti-tikus. Diantaranya : Perangkap tikus, lem tikus, sampai yang paling ekstrim pake batang bambu. Cara yang paling terakhir ini adalah cara yang paling gue suka. Setiap malem gue dan bokap selalu hunting tikus di dalem rumah. Bokap megang bambu, gue megang pengki (alat pengangkut debu di dalem rumah, temennya sapu). Dengan memegang alat itu, kejantanan gue jadi turun 90%. Fungsi...

Temen Baru Pengetahuan Baru

Saat-saat yang di tunggu akhirnya kesampaian juga. Setelah mengikuti beberapa tes yang melelahkan , gue bisa beristirahat dengan tenang tanpa beban pikiran akan tes. Sekarang gue bisa melakukan aktivitas seperti biasa pada umumnya, menikmati liburan dengan hobi gue sendiri : nonton drama korea, nulis blog, dan tidur. Salah satu kesibukan gue kemarin adalah mendaftar Akademi Imigrasi . For your ingus, untuk masuk ke Akademi itu harus melewati rangkaian tes yang beruntun. Tes tulis, tes kesamaptaan (tes fisik), tes kesehatan, tes psikotes wawancara, dan tes keterampilan. Dua tes awal sudah gue lewati dengan mulus, dan besok senin gue harus melakukan tes kesehatan. By the way, gue dapet informasi dari temen-temen sekolah, biasanya kalau tes kesehatan akademi itu, nanti calon peserta akan ditelanjangin, dan diliat satu-satu fisiknya. Danny, temen smp gue yang kebetulan daftar Akademi Imigrasi juga, nge chat gue, ‘ Fal kita lolos. Besok senin kita tes kesehatan. Karena nomor pese...

Taruna Yang Ganas

Rabu kemarin, setelah tes tulis SBMPTN, gue verifikasi berkas asli Akademi Imigrasi bareng temen sekolah gue, Rio. Lokasi tempatnya di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia KEMENKUMHAM, Depok. Dari tempat tinggal gue ke sana, hanya membutuhkan waktu satu jam. Para peserta calon taruna yang ingin melakukan verifikasi berkas, disuruh menunggu di bawah tenda yang disediakan, sambil disebutkan nomor antrian. Gue dan Rio duduk saling berjauhan, karena nomor antrian kita berbeda jauh. Di sekitar tenda, ada taruna yang menjaga tempat tenda. Semuanya berbadan tegap, berisi, dan tinggi. Mukanya juga sangar-sangar. “Kau anak band ya ?” Tanya salah seorang taruna dengan logat sumatera, kepada calon taruna yang sedang duduk. “Bukan kak” Jawabnya sambil gugup. “Rambut kau, panjang kali ! Mirip Andika Kangen band ! Nanti cukur ya !” Gue hanya memandang taruna itu, sambil gemeteran. Dalam hati gue bilang, ‘Semoga gue gak ditanya’. “Hey, kau anak mana kau ?” Tanya taruna itu ...

Bang Nopal, Main Yuk !

Perumahan di rumah Nyokap gue tergolong perumahan baru. Tetangga di sini didominasi oleh pasangan suami istri yang baru menikah. Rata-rata anak-anaknya masih kecil, gak ada yang seumuran gue. Jadi, pemandangan sore hari ketika gue keluar rumah adalah melihat anak kecil berkeliaran kesana kemari sambil meneteskan air ingus. Gue gak punya temen di perumahan ini. Bukannya gue gak mau bersosialisasi, gue cuman takut kalau terjadi apa-apa dengan anak-anak-ingusan-itu, pasti gue yang kena, karena gue anak yang paling tua. Tapi gue punya satu temen, dia anak kecil, kira-kira ukurannya 50 milimeter… oke itu ukuran upil  gue. Temen gue itu tetangga sebelah, namanya Mahesa. Tepatnya bukan temen gue sih, soalnya cuman dia yang mengganggap gue sebagai temen, guenya nggak. Mahesa ini anak tunggal. Orang tuanya juga tunggal. Dia hanya di besarkan oleh ibunya. Kalau masalah tentang bapaknya, gue gak tau. Gue gak mau menanyakan masalah tentang bapaknya ke Mahesa, dia masih kecil. Ka...

Kucingku Berak Sembarangan

Semuanya di keluarga gue suka kucing, kecuali nyokap. Nyokap ini paling jijik kalau udah ketemu sama yang namanya kucing. Kesentuh bulu kucing sedikit aja langsung teriak histeris 'AAH!'. Kadang gue suka ngerjain nyokap kalo lagi di rumah, kucing kampung dari luar gue bawa ke dalem rumah, terus gue tempelin bulu kucingnya ke kaki nyokap. Dia teriak histeris. Gue bahagia. Nyokap suka bilang 'jangan melihara kucing di rumah, soalnya jorok’. Kata-kata itu selalu  terngiang di kuping gue. tapi ya namanya gue suka banget sama kucing, gue tetep suka ngasih makan kucing kampung yang berada di deket rumah. … Suatu hari, ada kucing yang dateng ke rumah. Kucing ini biasa dipanggil ‘nenek’ sama bokap, soalnya kucingnya mempunyai raut muka yang tua. Terus, Si nenek mencari tempat-tempat terpencil gitu. Yang gue tau ‘kalau kucing ke rumah mencari tempat-tempat terpencil yang susah di lihat, berarti kucing itu mau melahirkan.’ Teori gue di perkuat oleh perutnya Si ...

Merasa asing

Gue merenungkan tulisan raditya dika dari bukunya mengenai koala yang berasal dari New South Wales, Australia. ceritanya begini, koala itu bermigrasi dari hutan tempat tinggalnya. beberapa bulan kemudian, ia kembali ke hutan tempat dia tinggal. namun, ternyata selama dia pergi, hutan yang pernah menjadi rumahnya ditebang, diratakan dengan tanah oleh para penebang liar. Si koala kebingungan kenapa tempat tinggalnya tidak seperti dulu. ia hanya bisa diam , tanpa bisa berbuat apa pun. ia duduk sendirian. memandangi sesuatu yang dulu sangat diakrabinya dan sekarang tidak dikenalinya. Sebenernya gue juga pernah merasakan hal yang dirasakan Si koala itu. 'sesuatu yang dulu sangat diakrabi dan sekarang seperti tidak dikenali'. tapi yang gue rasakan bukan kepada tempat seperti Si koala yang diceritakan diatas, tapi lebih kepada teman yang dulu pernah dekat, tapi sekarang udah tidak lagi. Salah satunya temen sd gue, Ibnu. Ibnu ini saudara dari saudara gue. jadi, gue punya ...