Di rumah gue melihara dua kucing, berjenis kelamin
jantan dan betina. Gue melihara mereka berdua dari bayi sampai besar. Tapi,
dari kecil, mereka gak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya.
Bapaknya entah kemana saat mereka lahir. Sedangkan, ibunya melarikan diri dari
rumah untuk kawin lagi dengan kucing garong lain. (Ngomong-ngomong, kok, cerita
kucing gue kayak sinetron ya ?)
Entah kenapa, setelah Bokap ngomong kayak begitu, gue jadi lebih suka nyolek-nyolek puting susu kucing yang betina.
Belakangan ini, kucing yang betina perutnya makin lama
makin membuncit. Bokap yang melihat akan hal itu, langsung bilang ke gue, “Fal,
liat tuh, perut kucing yang cewek makin besar. Terus, puting susunya juga jadi
berwarna pink. Itu tandanya dia lagi hamil, Fal….”
Entah kenapa, setelah Bokap ngomong kayak begitu, gue jadi lebih suka nyolek-nyolek puting susu kucing yang betina.
Berbeda dengan kucing betina yang suka main keluar-luar
rumah (sehingga menyebabkan hamil), kucing yang berkelamin jantan lebih suka
berdiam diri di rumah. Kerjaannya cuman makan, boker, tidur, makan, boker,
tidur, begitu seterusnya sampai kecoa bisa main golf.
Pernah sekali, kucing itu main keluar rumah tanpa pamit.
Berkeliaran berburu makanan. Setelah kenyang makan makanan hasil buruan,
bukannya mencari kucing betina lain untuk di kawinin, dia malah dikerubungi
tiga kucing jantan lain. Itu menjadi sebuah pertanyaan mengenai kejantanannya.
Gue yang melihat kejadian itu, langsung lapor ke Bokap. Kucing itu dibawa ke
rumah, lalu Bokap menginterogasi kucing dengan pertanyaan, “Kamu homo ya ?”
Di pagi yang cerah ini, tepatnya hari senin tanggal 16
November 2o15, adalah hari yang sangat bersejarah dalam hidup gue. Gue gak akan
melupakan peristiwa-peristiwa dari yang terkecil hingga terbesar di hari ini.
Karena gue tau, gak semua orang bisa mendapatkan sejarah hidup tak terlupakan.
Cerita berawal ketika gue sarapan pagi di rumah sebelum
ke kampus. Semua terlihat biasa aja, gak ada yang spesial. Matahari masih
terbit dari timur, ayam masih berkokok di pagi hari, dan Aliando masih bermain
sinetron ganteng-ganteng serigala. Semua masih terlihat biasa.
Sampai suatu ketika, tenangnya pagi langsung berubah
menjadi tegang saat Bokap berdiri di ruang keluarga.“Fal,” kata bokap dengan
suara gugup, “denger suara bayi kucing, gak ?” Tangan Bokap membuat huruf C,
lalu mengangkat ke telinga. Seolah-olah kalo dia melakukan hal itu akan
terdengar suara kucing.
Keadaan ruang keluarga langsung hening.
Gue fokus berusaha mendengarkan suara bayi kucing
ketika sarapan. Gak ada suara bayi kucing yang terdengar. Gue melanjutkan
kembali makanan di piring sampai habis. Sarapan pagi ini cukup enak, sehingga
perut gue terasa kenyang dan sedikit kentut. Pas gue minum segelas air putih,
Bokap teriak dengan lantang, “FAL ! ADA BAYI KUCING !”
Gue langsung berlari ke sumber suara Bokap. Terlihat
Bokap sedang duduk di depan lemari berwarna hitam yang sudah lapuk. Pintu
lemari tersebut terbuka sedikit. Terdengar suara lemah bayi kucing. “FAL!
AMBILKAN SENTER!” kata Bokap, layaknya dokter kandungan yang menyuruh
asistennya mengambil peralatan penting.
Gue mengambil senter dari ruang keluarga, lalu balik ke
tempat itu lagi. Lampu senter itu gue nyalakan ke dalam lemari. Terlihat kucing
gue yang betina terkulai lemah, ada dua bayi kucing lucu berwarna sama :
hitam-putih. Saat dilihat lagi, ada benda seperti tokai di alat kelamin si
kucing betina. Gue berteori, mungkin di beberapa kasus saat kucing melahirkan, usus
besarnya akan jebol sehingga tokai bisa nembus ke alat kelamin kucing betina.
Bokap langsung mencolek benda (berbentuk tokai) di alat kelamin kucing
betina. Tiba-tiba setelah Bokap mencolek benda tersebut, keluar setengah
bagiannya. Ternyata itu anak kucing yang ketiga ! Terdapat badan bayi kucing
beserta kakinya. Tapi, kepalanya masih di dalam rahim si kucing.
“AYO KUCING SEMANGAT !” kata Bokap antusias, mencoba
membantu melahirkan.
Gue ikutan membantu mempermudah melahirkan. “Atur nafas
dalam-dalam… buang. Atur nafas dalam-dalam… buang. LAKUKAN ITU TERUS KUCING !”
Entah kalimat itu berguna atau nggak untuk kucing, setidaknya gue sudah
berusaha.
Kucing itu masih berusaha ngeden untuk mengeluarkan
bagian kepala si bayi. Detik demi detik terasa lambat. Semua gerakan di dunia
serasa slowmotion. Sekitar satu menit
kemudian, akhirnya kepala bayi dan badannya langsung berojol keluar dari rahim
beserta ari-arinya (plasenta).
Saat itu gue ingin meneteskan air mata bahagia, tapi
gue coba hilangkan, malu ada Bokap. Dengan lahirnya tiga bayi kucing ini,
anggota keluarga gue jadi bertambah.
Komentar
Posting Komentar