Langsung ke konten utama

Aku Lahirnya Ditiup

It’s time to membersihkan sarang laba-laba yang sudah menempel dimana-dimana. Hampir udah tiga minggu belum nulis apa-apa di blog, rasanya kangen juga. Blog gue ke depannya kayaknya bakalan mati suri: hidup, mati, hidup, mati, hidup, dan seterusnya. Tapi gue akan memposting kalau bener-bener ada waktu luang.

Kuliah di semester tiga jadwal gue udah padet banget. Karena sekarang bukan cuman kuliah aja, tapi sambil kerja juga. Dan itu sangat-sangat-sangat menghabiskan waktu dan menguras tenaga. Jadi waktu untuk me-time bener-bener sedikit, bahkan bisa dibilang nggak ada. Mangkanya gue jarang nulis blog lagi.

Untuk yang belum tau, kerjaan gue adalah sebagai guru les matematika dan fisika di bimbel sama privat. Banyak yang bilang kalo gue ini pinter menghitung. Tapi gue lebih suka dibilang, menyukai pelajaran yang ada hitung-hitungannya.

Sejak kecil gue emang udah suka pelajaran matematika. Itu juga bisa diliat dari nilai-nilai gue yang selalu bagus di pelajaran itu. Di kelas 4 sd, gue pernah satu-satunya murid yang dapet nilai bagus sendiri. Yang lain nilainya jelek semua. Itu buat gue bangga. Sampai guru gue waktu itu nyamperin, “Kamu pinter banget. Yang rajin ya belajarnya.”

Namanya juga manusia, pasti punya kelebihan dan kekurangan. Walaupun gue bisa matematika, dulu gue paling susah belajar bahasa. Terutama bahasa inggris. Grammar yang diajarin gak pernah masuk sama sekali ke otak. Paling, yang gue hapal cuman satu: I like mango.

Jadi semua pertanyaan selalu gue jawab itu. Apapun konteksnya. Suatu hari sebelum memulai pelajaran, guru bahasa inggris nanya ke gue, “How are you ?” gue jawab, “I like mango.” Gak nyambung abis.

Pada awalnya gue ragu untuk mengambil pekerjaan ini, ya selain karena basic mata kuliah gue gak ada yang berhubungan sama sekali dengan guru, gue juga kurang pede ngomong di depan orang banyak.

Waktu demi waktu gue lewatin, ternyata pekerjaan sebagai guru yang pada awalnya kurang sreg, ternyata buat gue enjoy. Murid-muridnya selalu gue anggep sebagai temen. Jadi, ya, kayak temen biasa aja. Di sela-sela belajar, ngobrolin apapun yang lagi trend sekarang.

Menjadi guru, gue bukan cuman mengajar, tapi juga belajar. Belajar percaya diri ngomong di depan orang banyak. Belajar bagaimana men-transfer ilmu yang gue punya. Belajar memahami perasaan orang lain. 

Untuk mendapatkan itu semua, butuh proses. 

Tiba-tiba jadi inget ngajar les privat pertama kali. Waktu itu gue belum kenal sama anak yang gue ajarin. Namanya Aslan. Berkelamin Jantan. Gue kenal anak itu lewat bokap. Jadi ceritanya ada temen bokap yang minta diajarin sama gue. Karena nggak mau membuang kesempatan, gue langsung meng-iya-kan tawaran tersebut.

Singkat cerita, gue dikasih tau sama bokap bahwa Aslan ini baru masuk kelas satu smp. Sebelum berangkat ke rumahnya, gue belajar dulu matematika secepat kilat. Ketika dirasa gue udah cukup memahami pelajaran matematika, gue menuju ke rumah Aslan. Gue udah siap ngajar. 

Pas sampai di sana, kita (gue dan Aslan) basa-basi ngomong apa aja. “Aslan, kamu kelas berapa sekarang ?” tanya gue, untuk memastikan  dia kelas satu smp.

Dia jawab, “Kelas dua smp.” 

Gue bengong. Bingung mesti ngomong apa.

Setelah belajar keras sebelum ke rumahnya ternyata sia-sia. Ternyata gue salah belajar. Bokap salah memberi informasi. Dan itu sangat fatal. Salah-salah ngajarin, gue langsung bisa terdeportasi ke Zimbabwe.

Mencoba memastikan sekali lagi, siapa tau gue salah denger Aslan ngomong, gue angkat bicara lagi, “Coba, mana liat buku paketnya.” 

Dia menunjukan buku paket matematika bewarna hijau. Di situ tertera tulisan : untuk kelas 2 smp. Gue langsung diem. Pengin boker di tempat. Sekarang gue harus berpikir bagaimana caranya supaya bisa ngajarin Aslan dengan baik dan benar. Ada salah satu cara yang gue selalu inget ketika kita kepepet dalam suatu hal: improvisasi.

Pokoknya hari pertama gue ngajar, apapun yang ada di dalam otak gue langsung gue ajarkan. Entah itu benar atau salah, bodo amat. Yang penting gue ngajar.

Setelah hari itu, sistem pengajaran gue udah mulai konsisten. Sesuai dengan kompetensi yang ada di bab buku paket matematikanya Aslan.

Ketika gue ngajar gue juga belajar untuk memahami karakter, sifat, dan hal yang disukai murid-murid gue. Nggak semua orang bisa diperlakukan hal yang sama. Misal ketika ada seorang murid gue yang suka banget sama anime, ya gue ngobrolin anime sama dia.

Karena ketika seseorang ketemu dengan orang lain yang hobi atau karakternya sama, otomatis mereka akan nyambung. Dengan kata lain ngomongin hal apa aja, pasti mudah dipahami. Itu cara gue mengajar. Itu juga baru tau pas jadi guru.

Gue suka salut sama guru-guru sd jaman dulu yang bisa ngajar hampir semua pelajaran. Salah satunya adalah guru sd gue, pernah ngajar tiga sampai empat mata pelajaran sekaligus. Itu hebat banget. Memahami satu pelajaran aja udah susah, apalagi semuanya. Di tempat les bimbel ngajar, ketika gue mengajar fisika anak kelas dua smp, tiba-tiba manager tempat les nyuruh gue ngajar biologi anak kelas satu.

Itu susahnya bukan main. Konsentrasi kepecah harus membagi waktu antara ngajarin yang satu dan lainnya.

Ketika ngajarin fisika di papan tulis masih fine-fine aja, soalnya udah belajar di rumah. Tapi ketika pelajaran biologi, gue harus belajar di tempat. Gue baca lima menit buku biologinya, setelah itu langsung ngajarin. 

Inget banget, nama anak itu Raihan. Kita baru pertama kali ketemu di tempat les. Saat itu dia sedang gue ajarin bab ciri-ciri mahluk hidup. Bab itu gue pilih karena paling mudah daripada yang lain.

“Kamu mahluk hidup, kan ?” gue nanya.

“Iya, kak.” 

“Nah, kamu makan gak ?”

“Ya… makanlah, kak.” 

“Nah, pada dasarnya semua mahluk hidup itu semua butuh makanan,” gue menjelaskan. 
“Mahluk hidup membutuhkan makanan, untuk bertahan hidup. Dari makanan itu kita bisa mempunyai energi untuk bergerak dan melakukan aktivitas.”

“Oh gitu…”

“Kamu tau bekembang biak ?”

Dia menjawab antusias, “Tau kak,  berkembang biak itu melahirkan.”

“Nah, itu bener. Semua mahluk hidup pasti berkembang biak, untuk melanjutkan keturunannya. Kamu di dunia ini dilahirin sama mama kamu atau dimuntahin ?”

“Bukan kedua-duanya kak.”

Gue bingung. Jangan-jangan Raihan ini anak jin. “Lah , terus kamu gimana ?”

“Aku lahirnya ditiup.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Interview With Alita Biani (Kakaknya Tissa Biani)

Instagram/alitabiani Melihat artis di televisi rasanya sudah terlalu sering. Gegap gempita dunia hiburan. Popularitas yang naik hari demi hari. Privasi yang hampir sudah tidak ada lagi, karena hampir masuk acara gosip setiap hari. Itu yang membuat gue nggak penasaran dengan kehidupan para artis, toh, kehidupannya hampir semuanya kita ketahui di televisi . Belakangan ini, gue lagi suka melihat sosial media salah satu teman SMP,  Alita Biani .  Ia adalah seorang kakak dari  Tissa Biani , artis sinetron dan film. Hampir di setiap  insta-story  –nya selalu bersama sang adik. Dan ini perlahan membuat gue penasaran. Gimana sih, kehidupan kakak seorang artis dan apa rasanya ? Berbekal dengan jiwa jurnalistik terpendam di dalam dada, akhirnya gue memberanikan DM dia Twitter , bertanya apakah pengin diwawancara atau nggak. Bagai gayung bersambut, ternyata Alita membolehkan gue mengubek-ngubek kehidupan dia. Nggak usah berlama-lama, ini adalah hasil wawan...

KONSULTAMBAH

Setelah bermeditasi berminggu-minggu di dalam kamar mandi (baca: mencret gak sembuh-sembuh), gue menemukan sebuah ide brilian untuk inovasi blog gue. Seperti rubrik dalam majalah, gue akan membuat rubrik baru, namanya KONSULTAMBAH. KONSULTAMBAH merupakan singkatan dari Konsultasi Mbah. Layaknya seorang mbah dukun menjawab pertanyaan dari pasiennya, di sini gue akan menjadi Mbah yang akan menjawab pertanyaan yang masuk dari pembaca. Masih bingung ? bentar, gue berubah jadi Mbah dulu. … Kamu sering ketemu orang gila ? Kamu suka mencret-mencret selama satu tahun ? Atau pacar kamu suka selingkuh sama belalang ? Jangan resah, jangan takut, jangan boker sembarangan. Tenang, Mbah punya solusinya. Di sini, Mbah akan menjawab pertanyaan atau keresahan apa yang sedang kamu alami dengan cerdas dan tolol. Di bawah ini ada beberapa testimoni setelah ke KONSULTAMBAH : “Sebelum saya ke KONSULTAMBAH, makanan anak saya hanya bakso biasa, sehingga prestasinya selalu menurun. Setel...

Tukeran Link

Di postingan kali ini, gue pengin nge- share alamat blog temen-temen gue. Biar blog gue sama temen-temen banyak yang baca juga hehe. Tapi, kalo kalian pengin tukeran link juga sama gue, silahkan komen di bawah atau email gue aja ya. Syaratnya cumin satu aja, alamat blog gue udah ditaruh di blog kalian dulu. Nanti baru gue taruh di sini. Terima kasih :D - https://landastanpabatas.blogspot.com (Herdi Alif Hakim) - https://relative19.blogspot.com (Hotlas Mora Sinaga) - https://worldthroughmyeyeglasses.wordpress.com (Elva Mustika Putri) - https://gamalmuhammad.blogspot.co.id (Gamal Muhammad Adam)