Gue bingung, pasti selalu ada hewan maupun serangga yang
menjadi penghuni di rumah gue. Sekalinya satu wabah udah nggak ada, muncul
wabah lain yang dateng. Seperti kayak ada ‘hewan musiman’ di rumah gue. Saking
keseringannya di rumah gue, mungkin nanti ada yang nanya, “sekarang lagi musim
hewan apaan di rumah lo ?”
Pernah ada tikus berkeliaran di dalem rumah. Biasanya
si tikus ini masuk ke dalem rumah melalui pintu gudang yang dilubangi dengan
gigi seri-nya. Sehingga penghuni di dalem rumah jadi was-was kalo ada tikus.
Untuk mengurangi populasi tikus di sekitar rumah, bokap beli barang-barang
anti-tikus. Diantaranya : Perangkap tikus, lem tikus, sampai yang paling
ekstrim pake batang bambu.
Cara yang paling terakhir ini adalah cara yang paling
gue suka. Setiap malem gue dan bokap selalu hunting tikus di dalem rumah. Bokap
megang bambu, gue megang pengki (alat pengangkut debu di dalem rumah, temennya
sapu). Dengan memegang alat itu, kejantanan gue jadi turun 90%.
Fungsi bokap gue
adalah memukul tikus hingga tewas. Sedangkan fungsi gue adalah hanya untuk
memojokan tikus yang sedang berkeliaran supaya mudah di pukul. Terkadang saat
sedang memojokan tikus, dia lari kesana-kemari hingga suatu saat menghampiri
kaki gue. Refleks dengan jantannya gue melompat, otomatis tikusnya lari dengan
selamat.
“Lah, kok tikusnya dibiarin lari ?” seru bokap gue
dengan emosi.
“Anu… anu…” gue menjawab dengan gagap.
“Kenapa ?”
“Takut sama tikus….”
Kejantanan gue turun 200%.
Hunting tikus pun masih berlanjut, gue menakut-nakuti
tikus dengan membuat kegaduhan di dalam rumah supaya tikusnya keluar dari
tempat persembuyiannya. Tempat yang sering menjadi tongkrongannya adalah di
bawah sofa ruang keluarga dan di bawah kompor gas dapur. Kali ini gue menuju ke
sofa, lalu membuat perlakuan anarkis dengan menggoyang-goyangkan sofa. Tikus
itu pun keluar, lalu menuju ruang tamu.
Gue dan bokap lari dengan semangat ke ruang tamu. Gue
dengan gagang pengki memojokan tikus di sudut tembok rumah. Bokap dateng dari
arah belakang sambil memegang bambu ditangannya, lalu memukul tikusnya dengan
keras. “Ciiit, ciiiit” suara tikus terdengar kesakitan. Bokap gue memukul
kembali tikus itu dengan gagahnya, suara tikusnya kembali terdengar, “Ciit,
ciit”. Satu hantaman lagi bokap gue memukul tikus itu dengan bambu, dan
akhirnya tikusnya mati dengan sangat mengenaskan. Darah segar keluar dari kepalanya
dan perutnya. Fatality.
Setelah tragedi satu tikus mati tersebut, ternyata
keesokannya masih ada tikus lagi yang masih berkeliaran. Bokap berkata dengan
semangat, “Wah masih banyak tikus nih, berarti kita harus tuntaskan sampai
akar-akarnya fal”.
…
Waktu silih berganti, hama tikus pun sudah nggak ada
lagi di rumah. Walaupun sudah nggak ada tikus, dateng mahluk pengganggu yang
lain. Nyamuk. Saat malam hari banyak banget nyamuk berterbangan di rumah,
hingga ada suara “nguuuing, nguiing” di terlinga. Mungkin kalau diibaratkan
dengan pepatah, ‘mati satu tikus, tumbuh lagi seribu nyamuk’.
Gangguan yang disebabkan oleh nyamuk bukan hanya suara ‘Nguing’
di telinga, tapi juga tusukan ujung mulutnya ke dalam kulit membuat gue nggak
bisa tidur dengan pulas. Gatel dan bentol-bentol. Sebenernya mudah banget untuk
mengusir nyamuk itu, hanya dengan menyemprotkan cairan pengusir nyamuk. Tapi karena
gak suka baunya, gue gak pakai itu, pakai raket nyamuk.
Jadi setiap malam, hampir selalu ada suara ‘tak’ dari
raket nyamuk. Nyamuk-nyamuk bertebangan, lalu gue dan bokap menghantam
nyamuknya dengan raket listrik. Setelah kerja keras membunuh nyamuk, akhirnya 5 tahun
kemudian gue jadi atlit badminton.
Gue berpikir, pasti nggak enak banget kalau gue jadi
atlit badminton professional. Misalnya gue memenangkan juara satu turnamen
badminton internasional (Oke, ini mengkahayal habis minum baygon), lalu
wartawan mengerubungi gue dengan bertanya, “Apa kiat-kiat anda supaya menjadi
atlit professional dan bisa menjadi juara satu turnamen internasional ?” Gue
menjawab dengan gagah sambil memegang lambang garuda di dada, “Belilah raket
nyamuk, dan berlatihlah dengan nyamuk”. Antiklimaks.
…
Sekarang, serangga yang menjadi penghuni rumah gue bukan
lagi nyamuk. Serangga ini adalah serangga yang paling menakutkan di dunia
menurut gue. Cowok kekar pun kalau melihat dia langsung berubah menjadi banci.
Badan yang tadinya six pack saat melihat dia langsung one pack. Siapakah dia ?
KE-CO-A. Mendengar namanya aja gue langsung merinding.
Kecoa ini muncul dari sarangnya di dapur, tepatnya di
bawah tempet cuci piring (wastafel). Dia membuat tempat persembunyiannya di
sudut tembok. Pada awalnya gue biasa aja, karena hanya satu-dua ekor yang masih
berkeliaran. Jadi gue gak takut. Tapi lama-kelamaan populasinya makin lama
makin banyak. Sepertinya pemimpin kecoanya ini tidak menerapkan keluarga
berencana pada rakyatnya.
Saat gue mencuci piring di dapur pun timbul rasa gelisah.
Takut ada kecoa yang menghampiri ke kaki gue, lalu memanjat ke atas betis,
setelah itu masuk ke celana dalam. Selalu timbul khayalan yang sangat
menjijikan itu dipikiran gue.
Pernah gue mengusir kecoa itu dengan bilang, “hush,
hush, hush” sambil melambaikan tangan seakan menyuruhnya pergi, tapi yang ada malah
sebaliknya. Bukannya pergi menjauh, malah semakin mendekat. KAMPRET.
“JANGAN DEKET-DEKET OI!”
Kecoa semakin mendekat.
“PERGI SANA!”
Kecoanya pergi.
“Huft, Akhirnya pergi juga”
Sesaat kemudian, kecoanya kembali lagi bersama teman-temannya, lalu terbang ke arah gue.
Komentar
Posting Komentar