Langsung ke konten utama

Gibran #2: Ramalan Maul Part 1


Gibran suntuk. Mata pelajaran di kelas ngebosenin. Bukannya apa-apa, Bu Keriting lagi ngejelasin materi teori evolusi manusia. Yang dipopulerkan oleh Charles Darwin itu. Katanya, semua manusia berawal dari satu spesies yang sama: kera.  Gibran gak percaya. Masa manusia sepintar kayak manusia dulunya kera ? gak mungkin. Di tengah-tengah sesi penjelasan materi, Gibran angkat tangan.
“Iya, silahkan mau nanya apa Gibran,” kata Bu Keriting di depan kelas.

“Kan, asal-usul manusia berasal dari kera ya,” Gibran mengulangi penjelasan dari materi di depan. 
“Berarti…”

“Berarti apa ?”

“Berarti Ibu sejenis kera, dong ?”

Semua murid di kelas kontan ketawa. Penghapus papan tulis melayang tepat ke kepala Gibran. Aduh! Saya nanya kok malah dimarahin. Gibran ngomel-ngomel sendiri. Gak habis pikir. Guru yang ngejelasin, dia juga yang marah atas penjelasannya di papan tulis.

Di samping itu, sepertinya bukan cuman Gibran aja yang suntuk. Maul, temen sebangkunya Gibran, malah asik ngeramal orang. Basyit, Itsna, sama Aziz menjadi konsumen pertamanya. Mereka berempat malah asik meramal-diramal. Tentunya gak teriak-teriak. Harus bisik-bisik. Soalnya takut dilempar penghapus kayak Gibran. Hihi.

Paling juga bohongan. Cuman narik perhatian doang, pikir Gibran. Maul kan emang gitu. Suka caper. Cari permen.

***
Oh iya, sebelum akhirnya Gibran sama Maul bisa temenan dan bisa duduk bersebelahan, ada ceritanya lho.
Dulu pas pertama kali masuk SMA Gunung Agung, semua murid disuruh upacara. Termasuk siswa baru. Tapi Gibran gak mau. Males katanya. Panas-panasan. Ujung-ujungnya paling bau ketek. Jangan ditanya bau keteknya Gibran kalo basah kayak apa. Tempat sampah bantar gebang pun kalah.
Akhirnya dia mencari tempat untuk bersembunyi sekaligus nongkrong. Pilihannya jatuh pada kantin sekolah. Lokasinya sangat strategis. Di belakang sekolah. Jauh dari pengawasan guru-guru. Sambil menyeruput kopi hangat Gibran menikmati aksi cabutnya ini. Tiba-tiba, sorot matanya melihat sesuatu di pojokan. Ada mahluk berkulit gelap, berambut ikal, lagi minum es jeruk.

Gibran merinding.

“ADA JIN DI POJOKAN!” Teriak Gibran histeris. “TERUS JINNYA MANA MINUM ES JERUK LAGI! SEREM BANGET!”

Semua penjual di kantin langsung pada heboh. Mendatangi Gibran secara bersamaan. Pengin lihat jin secara live. Soalnya, baru pertama kali kantin kedatangan jin. Prestasi yang patut dibanggakan. Siapa tau sekolahnya bisa masuk acara tv. Kayak dunia lain gitu.

Mahluk yang dipojokan itu kontan langsung berdiri. Dan langsung memproklamirkan, “saya manusia! Saya bukan jin!” Mahluk itu menyeruput es di tangannya. “Lagian mana ada jin minum es jeruk!”

Yah, penonton kecewa. Pedagang kantin langsung ke tempat jualannya masing-masing. Gak ada setan, berarti gak bakal  diliput tv deh.

Akibat dari kericuhan di kantin, suara ribut-ribut kedengeran sampai lapangan. Satu guru lari ke 
bagian belakang sekolah. Melihat ada siswa yang di kantin, Gibran dan satu siswa (yang dibilang jin itu) diboyong ke lapangan untuk di setrap.

“Gara-gara kamu sih, kita kena hukuman kan.”

“Maap. Saya kira kamu jin. Siapa suruh muka dibuat serem gitu ?”

Cowok itu merengut.

Gibran mengulurkan tangan. “Saya Gibran.”

“Saya Maul. Mahluk tampan dari khayangan.”

Itulah awal cerita bertemunya Gibran dengan Maul. Agak aneh memang. Tapi gara-gara itulah mereka jadi dekat. Sehingga bisa duduk sebelahan satu kelas. Kalo kenapa Maul merasa dirinya tampan ? Itu gak tau. Gibran aja mau muntah dengerinnya.

***

Balik lagi ke situasi kelas. Saat Maul lagi meramal. Basyit memang lagi jatuh cinta sama Balqis. Cewek badai kelas sebelah. Namanya juga cowok pemalu (lebih tepatnya malu-maluin!) Basyit cuman bisa ngeliatin Balqis dari kejauhan. Momen yang paling dia suka adalah pas ngeliat Balqis lagi nguncir rambutnya. Aduhai! Cantik nian cewek ni. Daku harus menikahinya! seru Basyit. Si penyair gokil.

Maul mencoba meramalkan hubungan percintaan Basyit. Tangannya diraba. Mukanya terlihat berpikir keras. Macam membaca masa depan negara. Saat itulah Maul mendesah pelan, “Aduh, garis tangan kamu terputuh nih …”

“Yah, terus, itu artinya apa ?” tanya Basyit penasaran.

“Berarti itu tandanya kamu gak jodoh sama Balqis.”

Basyit berkomentar, “masa laki-laki tampan macamku ini gak jodoh sama Balqis.”

“Tapi tunggu sebentar.” Maul mencoba menenangkan. “Sepertinya kamu lebih cocok sama Laila.”

“Laila? Yang mukanya mirip buruh pabrik itu? Idih!”

Aziz sama Itsna senyum-senyum sendiri ngeliat kelakuan meramal si Maul. Entah beneran, entah bohongan. Yang penting mereka terhibur. Daripada dengerin pelajaran Bu keriting yang ngebosenin.
Gak mau kalah, Gibran akhirnya ikut nimbrung. Dia penasaran dengan kemampuan jin satu ini, eh Maul maksudnya. “Coba ramal saya!” ujar Gibran sambil mengulurkan telapak tangan.

Maul membaca garis tangan.

Katanya, rezeki Gibran agak seret. Hampir semua nilai di rapot merah. Jodohnya bakalan ketemu pas umur 50 tahun. Itu terjadi kalau Gibran gak mentraktir Maul bakso di kantin sekolah. Gibran narik tangannya. Langsung jitak kepala Maul.

Tapi ada satu ramalan lagi. Gibran beberapa hari ke depan bakal gak masuk sekolah. Pas ditanya alasannya kenapa, Maul cuman jawab dengan sok kerennya, “kemampuan saya gak nyampe situ, Gib.”

Bu Keriting melihat ada kegiatan tak lazim di kelasnya.

“Kalian lagi ngapain?!” Bu Keriting sudah naik pitam.

“Lagi diramal Maul, Bu. Dia hebat lho, ramalannya selalu bener,” celetuk Gibran, mempromosikan temannya satu ini. “Kemarin dia ngeramal matahari bakalan dari terbit dari timur. Eh, besoknya beneran kejadian.”

Semua murid ketawa.

“Oh gitu.” Bu Keriting langsung berjalan ke barisan belakang. Semua murid pada diem. Pasti bakalan marah besar atas ulahnya si Gibran. Guru itu udah berdiri di depan meja Gibran dan Maul. Ada helaan nafas panjang, lalu Bu Keriting bilang, “kalo gitu, Ibu ikutan diramal dong!”
Gedubrak.

Akhirnya pelajaran biologi ditunda. Semua murid bersorak gembira. Melempar-lempar kertas di meja. Mengelu-elukan nama Maul. Gibran mempersilahkan duduk guru biologi itu di bangkunya. Barisan belakang langsung rame. Dikerumunin sama murid satu kelas. Mirip pertujukan sulap.

Proses meramal pun dimulai.

Seperti biasa. Jurus meramal yang sering digunakan Maul adalah membaca garis tangan. Karena kalau membaca garis khatulistiwa terlalu sulit. Semua pandangan tertuju pada tangan Bu Keriting. Mencoba menerka-nerka apa yang dikatakan Maul (si peramal handal!)

Maul mulai membuka mulut. Tapi tertutup lagi. Biar keliatan dramatis.

“Sepertinya Ibu bakalan gak masuk sekolah beberapa hari ke depan,” suara Maul diberat-beratkan, supaya terlihat tegang.

“Kalau boleh tahu, itu kenapa bisa terjadi ?” Bu Keriting menelan ludah. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Semua penonton merasa dag-dig-dug-ser-cus. Semua pengin denger alasannya Maul kenapa bisa ngomong begitu. “Itu terjadi karena…” semua penonton menunggu jawaban Mauy. “Ibu terserang penyakit diare!”

Semua murid ngakak. Guru biologi menjitak kepala Maul. Dia mengaduh kesakitan. Bu Keriting bergegas ke depan kelas, menggebuk tiga kali papan tulis. Dia berkata tegas, “kalian kerjakan soal buku paket mulai dari halaman 72 sampai 90! Dikumpulkan besok jam delapan tepat di meja Ibu! Lebih dari itu gak dapet nilai!”

Maul menelan ludah. Begitu juga dengan lainnya. Bu Keriting marah besar hari itu.
(Bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tukeran Link

Di postingan kali ini, gue pengin nge- share alamat blog temen-temen gue. Biar blog gue sama temen-temen banyak yang baca juga hehe. Tapi, kalo kalian pengin tukeran link juga sama gue, silahkan komen di bawah atau email gue aja ya. Syaratnya cumin satu aja, alamat blog gue udah ditaruh di blog kalian dulu. Nanti baru gue taruh di sini. Terima kasih :D - https://landastanpabatas.blogspot.com (Herdi Alif Hakim) - https://relative19.blogspot.com (Hotlas Mora Sinaga) - https://worldthroughmyeyeglasses.wordpress.com (Elva Mustika Putri) - https://gamalmuhammad.blogspot.co.id (Gamal Muhammad Adam)  

Tips Memperbanyak Ide

Satu minggu pertama ini, gue baru masuk kuliah setelah libur panjang. Dari satu minggu itu, ternyata gak ada satu dosen pun yang masuk, kecuali satu mata kuliah statistika, Bu Wiwi. Pas masuk, dia memulai perkenalan dengan Mahasiswa. Emang, setiap naik semester, banyak mata kuliah yang baru, dan dosennnya banyak baru. Nah, Bu Wiwi ini termasuk dosen baru di kelas gue. Sebelum masuk ke topik pembelajaran, dia memulai dengan hal-hal yang gak akan membuat mahasiswa otak keram seketika. Bu Wiwi menceritakan pengalaman dirinya mengenai pendidikannya sampai S2. Lalu, dia juga ngajarin Mahasiswa jangan kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang). Itu gak ada manfaatnya. Kita harus mengasah soft skill dan punya karya selama kuliah. Supaya ketika udah lulus nanti, perusahaan yang mau nerima banyak. Katanya, nanti dari lulusan jurusan gue akan masuk ke industri kreatif yang kompetitif. Saingannya berat-berat. Gue harus kuat menghadapi tekanan dari atasan. Ditambah lagi, gue juga harus puny...

Kucingku Berak Sembarangan

Semuanya di keluarga gue suka kucing, kecuali nyokap. Nyokap ini paling jijik kalau udah ketemu sama yang namanya kucing. Kesentuh bulu kucing sedikit aja langsung teriak histeris 'AAH!'. Kadang gue suka ngerjain nyokap kalo lagi di rumah, kucing kampung dari luar gue bawa ke dalem rumah, terus gue tempelin bulu kucingnya ke kaki nyokap. Dia teriak histeris. Gue bahagia. Nyokap suka bilang 'jangan melihara kucing di rumah, soalnya jorok’. Kata-kata itu selalu  terngiang di kuping gue. tapi ya namanya gue suka banget sama kucing, gue tetep suka ngasih makan kucing kampung yang berada di deket rumah. … Suatu hari, ada kucing yang dateng ke rumah. Kucing ini biasa dipanggil ‘nenek’ sama bokap, soalnya kucingnya mempunyai raut muka yang tua. Terus, Si nenek mencari tempat-tempat terpencil gitu. Yang gue tau ‘kalau kucing ke rumah mencari tempat-tempat terpencil yang susah di lihat, berarti kucing itu mau melahirkan.’ Teori gue di perkuat oleh perutnya Si ...