Langsung ke konten utama

Journalist Camp Part 1

Di kampus, gue ikut Unit Kegiatan Mahasiswa (ekskul) GEMA. GEMA adalah singkatan dari Gerakan Mahasiswa, yang isinya terkadang membuat majalah kampus, menyebarkan poster-poster tulisan di MADING, dan lain sebagainya. Di dalamnya terdapat divisi reporter, divisi editor, divisi marketing, dan divisi artistic. Gue memililih divisi editor, karena emang gue suka di bidang tulis-menulis.

Hari jum’at sampai hari minggu kemarin, GEMA ngadain acara journalist camp untuk para anggota baru. Journalist camp adalah acara nginep selama tiga hari, yang fungsinya untuk menempa para MABA (Mahasiswa Baru) untuk menjadi anggota GEMA yang baik sesuai divisi masing-masing. Asik, katanya sih begitu.

Sebelum berangkat ke puncak, gue ngumpul dulu sama temen-temen yang ikut. Kita berkumpul di dalam kantin, makan supaya di sana gak kelaperan. Di sela-sela melahap makanan masing-masing, gue nanya, “Eh, lo pada bawa shampoo sama sabun gak ?”

“Nggak, gue cuman bawa gosok gigi aja. Nanti, kan, di sana tinggal minjem sama yang lain.”

“Lo gimana ?” gue nanya ke temen yang lain.

“Iya, gue juga gak bawa nih, paling di sana tinggal minjem yang lain.”

Pikiran kita semua sama : gak ada yang bawa shampoo sama sabun sama sekali. Kan, tinggal minjem di sana. Terus, kalo gak ada yang bawa, gimana nanti bisa mandi ? mungkin nanti di sana pada ngemis sabun punya warga.

Setelah makan, kita semua berangkat ke puncak malam hari menggunakan tronton. Tas hitam yang gue bawa berat banget. Gue membawa semua peralatan dalam satu tas, nggak dipisah antara makanan dan pakaian. Sedangkan, yang lain pada terpisah, jadi lebih enteng.

Aroma polusi dari kendaraan di jalan raya masuk ke dalam tronton. Udara di dalam jadi terasa bau, membuat hidung tersumbat dan bibir pecah-pecah. Semua memakai masker di mulut dan hidung untuk menyaring udara kotor masuk ke dalam paru-paru.

Perjalanan lumayan lama untuk sampai ke puncak. Dibutuhkan waktu lebih dari dua jam. Pas trontonnya udah berhenti, kita, para peserta dan panitia, harus menyusuri jalan melewati perumahan warga untuk sampai ke villa. Kita semua berpasangan supaya gak hilang. Cuman gue yang gak punya pasangan. Miris.

Cuacanya di puncak udah lumayan dingin. Angin menghembuskan dirinya ke segala arah. Untuk meminimalisir kedinginan, gue udah memakai peralatan jaket dan slayer pas di kampus. Perjalanan ketika tronton berhenti sampai villa ternyata cukup jauh, kira-kira satu kilometer lebih dua milimeter.

Tiba-tiba jalan yang awalnya datar, mulai menurun. Otot paha dan betis sangat digunakan untuk menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh. Kurangnya pencahayaan juga menambah berat medan perjalanan. Semakin turun bukannya semakin menemukan jalan datar lagi, malah bertambah curam.

Semua peserta udah kelelahan dengan berjalan kaki. Ada dua orang kakak senior memberi arahan kalo dikit lagi sampai villa. “Tahun lalu kita jaraknya lebih jauh daripada ini !” kata kakak senior,“Lebih jauh tiga meter !” Semangat gue turun, informasi yang tidak perlu disampaikan.

Akhirnya kita sampai villa dengan selamat. Nggak lama berselang, pembagian kamar peserta oleh panitia. Karena jumlah peserta cewek banyak, mereka dibagi beberapa kamar. Sedangkan cowok hanya satu ruangan. Kebetulan peserta cowok cuman lima orang. Kita, para peserta cowok, langsung menempati ruangan dan langsung tidur.

(Bersambung)

Komentar

  1. Njir enak banget bisa ke puncak rame-rame gitu.Gue sampe sekarang baru jadi wacana :")

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mangkanya, dirundingin lagi biar bisa jalan-jalan dong ;p hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merasa asing

Gue merenungkan tulisan raditya dika dari bukunya mengenai koala yang berasal dari New South Wales, Australia. ceritanya begini, koala itu bermigrasi dari hutan tempat tinggalnya. beberapa bulan kemudian, ia kembali ke hutan tempat dia tinggal. namun, ternyata selama dia pergi, hutan yang pernah menjadi rumahnya ditebang, diratakan dengan tanah oleh para penebang liar. Si koala kebingungan kenapa tempat tinggalnya tidak seperti dulu. ia hanya bisa diam , tanpa bisa berbuat apa pun. ia duduk sendirian. memandangi sesuatu yang dulu sangat diakrabinya dan sekarang tidak dikenalinya. Sebenernya gue juga pernah merasakan hal yang dirasakan Si koala itu. 'sesuatu yang dulu sangat diakrabi dan sekarang seperti tidak dikenali'. tapi yang gue rasakan bukan kepada tempat seperti Si koala yang diceritakan diatas, tapi lebih kepada teman yang dulu pernah dekat, tapi sekarang udah tidak lagi. Salah satunya temen sd gue, Ibnu. Ibnu ini saudara dari saudara gue. jadi, gue punya ...

Boker diwaktu yang tidak tepat

Pada bulan bulan awal tahun 2011 pas gue smp dilewati dengan kegiatan kegiatan sekolah yang menyibukan. entah ada try out terus menerus yang hanya berselang seminggu, mengerjakan soal soal pelajaran yang akan di ujiankan tanpa henti, dan masuk sekolah jam 6 pagi atau yang biasa disebut jam 0 untuk belajar tambahan. ya itu semua dilakukan hanya untuk satu tujuan. lulus ujian nasional. "Ah ah ah ah   Ah ah ah ah Ah ah ah oh Ah ah ah ah I always knew you were the best the coolest girl I know"

Menulis Komedi

Gue termasuk salah satu penggemar hal-hal yang berbau komedi. Entah dari buku maupun film. Gue suka aja ketawa, karena dengan ketawa seolah-olah hidup jadi tenang dan damai. Masalah-masalah pun jadi hilang sementara. Karena keseringan baca buku komedi, gue suka cekikikan sendiri. Mereka orang yang ngeliat dari jauh pasti pada bingung ngeliat seseorang ketawa sendirian. Termasuk Nyokap. Gue pernah baca buku The Idiots buku dari Chetan Bhagat penulis asal India di ruang tamu. Gue ngakak terus baca buku itu. Nyokap yang ngeliat akan hal ganjil ini berkata, “Fal, kamu gak gila, kan ?” “Nggaklah ! Ini ketawa lagi baca buku. Bukunya lucu,” jawab gue kalem. Gue lanjut baca buku lagi. Kali ini ketawanya lebih ngakak daripada sebelumnya. “KAMU NOFAL, KAN ?” Nyokap panik. “KELUAR KAMU DARI BADAN NOFAL! DIA ORANG BAIK-BAIK!” Ya, gara-gara ketawa terus baca buku, gue dianggap kesurupan mahluk halus. Kenapa ya gue bisa ketawa ? Pasti ada formula penulisan yang membuat itu jadi lucu. Di s...